Arsip Blog

Sebuah Review Komik Kambing Jantan

Siapa sih yang gak kenal Raditya Dika? Blogger dan penulis yang ngetop di kalangan anak muda (bahkan ibu-ibu) yang sudah menetaskan 4 buku fenomenal: Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus dan Babi Ngesot yang semuanya menjadi bestseller. Raditya Dika adalah trendsetter bagi dunia perbukuan Indonesia. Bagaimana tidak? Sekarang sudah banyak muncul buku-buku komedi nonfiksi yang berisi pengalaman pribadi si penulis. Sepertinya anak-anak bangsa ini ikut menjadi gila seperti Dika. Semua mengikuti jejak si kambing yang bahkan sudah merambah dunia perfilman. Ya, KambingJantan the Movie akan segera merusak menghiasi bioskop-bioskop kesayangan anda.

Berbicara tentang merambah dunia baru, Raditya Dika, dengan menggandeng Dio Rudiman membuat sebuah buku baru yang berbeda dari 4 buku sebelumnya. Kali ini Dika membuat komik. Judulnya adalah KambingJantan : Sebuah Komik Pelajar Bodoh yang diterbitkan oleh gagasmedia.

Komik KJ gagasmedia

Isinya bukanlah ilustrasi buku KambingJantan, melainkan cerita-cerita pengalaman Dika lainnya sewaktu kuliah di Adelaide, South Australia yang tidak dimasukkan dalam buku KambingJantan.

Komik ini ditulisgambar dengan gaya lebay, persis seperti buku-buku Dika sebelumnya yang juga ditulis dengan gaya berlebihan. Tapi mungkin di situ salah satu ciri Dika yang disukai pembacanya, dimana imajinasinya tentang suatu hal yang aneh dan mustahil dan kocak ketika sedang membicarakan sesuatu.

Salah satu scene favorit gue di komik ini:

Adelaide adalah kota yang gak terkenal. Kalau gak percaya, tanya aja sama abang bajaj yang lewat di depan rumah.

“Bang, ke Adelaide bang, GOCENG?

Langsung disiram oli panas.

Sungguh, ciri khas Dika, yang bisa memikirkan hl-hal tak terduga (dan bodoh) saat membicarakan sesuatu.

Awalnya desain cover komik ini seperti buku KambingJantan tetapi dicoret-coret:

Cover-prototype1

Gue suka cover ini, tapi apa boleh buat kalau tidak jadi dibuat. Lagi pula, cover komik yang sekarang beredar bagus juga. Malah ada aksen api “silakan bakar di sini”.

Ah, capek ah ngomong resmi terus. Gak tahan. Emang gue gak cocok jadi menteri.

Sampe mana tadi?

Oh, tentang isi komik ini, ceritanya ada 5 setengah bab (satu bab lagi gantung). Semuanya kejadian waktu Dika masih belajar ELICOS (gue gak inget kepanjangannya), semacam pelatihan bahasa Inggris gitu, supaya mahasiswa luar negeri bisa berkomunikasi dengan baik di college nanti.

Prolog?

Ah ya, bagian ini juga gak boleh dilewatkan. Memang, sedikit garing tetapi bagian Dika membawa mawar pada Kebo (bibirnya berdarah karena kena duri mawar) cukup mengagetkan. Lagi-lagi, inilah ciri khas Dika.

Bab pertama bercerita tentang Dika yang sok jago main bulu tangkis supaya mendapat image keren dari temen-temen barunya. Ternyata yang ada malah dia mempermalukan diri sendiri.

Bab kedua tentang temen Arabnya, Yousef, yang jatuh cinta pada Nicole, resepsionis apartemen tempat Dika tinggal. tetapi semuanya jadi kacau karena kegugupan mereka, Sharon, dan hal tak terduga lainnya (baca aja kalau mau tau apa).

Bab ketiga tentang “pedihnya pacaran jarak jauh”. Ya ya ya, emang gitu lah. Gue pernah nyobain, jadi gue gak minat ngebahasnya.

Bab keempat..Lha, koq malah gue ngelaporin kayak gini? Yang jelas, buang air kecil lebih dahulu kalau elo-elo mau baca ini komik. Kalo gak, bisa-bisa kencing di celana. Bukan karena ketawa terkencing-kencing, tapi karena gak tahan lagi terus ngompol *hubungannya apa gue gak tau*.

Kocak. Dijamin jenaka.

Kalau gak percaya, atau udah beli tapi ternyata gak lucu, bakar aja Dika dan Dio yang bikin. Bukan gue.

Iya, gue tau gue bilang “dijamin”, tapi kan bukan gue yang bikin.

Ih, dibilang bukan gue koq.

(hahahah, memang gak jelas banget nih)

Oh ya, gue ada dikit saran buat Dio dan info buat pembaca. Perhatiin gak kalo gambar di komiknya gede-gede? Gue heran, kenapa ada yang bilang gambarnya kecil, padahal buat gue, itu kegedean buat ukuran komik. Malah ada panel yang gak penting dibikin gede-gede. Akibatnya, ceritanya tapi bukunya tebal, makanya jadi mahal. Demi ekonomi, hematlah kertas.. Tapi kalau segitu sudah pas, ya gak masalah juga sih..

Secara keseluruhan, gue kasi nilai bintang 4 buat komik ini. Gambarnya detail (walaupun gue rasa muka Dika berubah-ubah terus tiap bab), punya ciri khas (gue pasti ngenalin gambarnya Dio kalau dia taruh di tempat lain), dan tetep kocak.

Semoga dengan komik ini, angka kelebayan anak bangsa meningkat komik Indonesia bisa bangkit dan jadi tradisi seperti manga di Jepang dan meningkatkan kreatifitas anak Indonesia (supaya ada kerjaan gitu).

Last but not least, gue mao bilang “anjriit, bahasa gue tadi resmi banget! Ini review ato resensi di koran?”

Hahahah. Gak lah.

“Ikutlah baca komik ini, dan jadilah bagian dari kami, fans nya Dika. Buat Dika, jangan lupa talkshow lagi ke Pekanbaru bareng Dio.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.